11.04.2015
2 comment

Motif Berfotografi

Setiap kali memotret berarti kita telah memilih satu dari ratusan kemungkinan kreatifitas fotografi yg bisa kita berikan kepada audien. Karya foto yg kita hasilkan menunjukkan kemampuan berfikir dan kreatifitas kita pd waktu dan moment tertentu.
Apakah kita konsisten mampu berfikir kreatif, atau sebaliknya, sering kedodoran ide? Itu dgn sendirinya bisa terlihat tanpa perlu kita jelaskan.
Kreatifitas fotografi bisa dikembangkan ke semua aspek foto: pesan, teknis, dan estetika. Misal, suatu ketika, mungkin kita ingin menyuguhkan teknis slow speed utk merekam indahnya garis2 cahaya lampu kendaraan di malam hari, itu artinya kita sdg mengembangkan kreatifitas teknis. Atau di moment tertentu kita ingin menampilkan framing dari payung warna-warni
yg ada di pantai, itu merupakan pilihan kreatif komposisi.
Nah, selain dua elemen di atas, yg paling menentukan kualitas foto dan merupakan aspek terpenting dlm foto adalah kreatifitas pesan. Inilah elemen yg menjadikan sebuah foto terasa bermakna atau cuma menjadi sebuah keindahan yg datar, kering, kosong tanpa makna..
Menurut pengalaman sy pribadi, jauh lebih mudah membuat foto indah ketimbang yg memiliki ide/pesan dramatis. Kita bisa membuat puluhan foto2 indah saat hunting. Tapi, mungkin cuma bagus dlm konsep teknis dan estetika, bukan yg bagus krn punya kedalaman pesan.
Untuk mendapatkan pesan foto yg dramatis diperlukan usaha berimajinasi yg lbh keras, agar mudah merespon atau menangkap moment2 tertentu. Jadi disini lebih menuntut kemampuan respon spontan ketimbang kreatifitas hafalan (spt masalah teknis dan komposisi)..

Foto adalah produk komunikasi, memang tantangannya adalah bgm supaya karya bisa dipahami oleh audien. Nah, ini justru konteksnya bukan meniadakan keberadaan dan kekuatan pesan. Bahkan karya yg sangat abstrak pun hrs punya pesan.. (Krn itu antara lain ia bisa diberi judul).
Sbg produk komunikasi, fotografer memang hrs mampu mengkomunikasikan gagasannya secara visual. Teorinya, ya spt yg sy ulas di atas. Tapi fotografer juga boleh memilih cara mengolah pesan, teknis dan estetika sesuai selera, kemampuan, dan wawasannya. Soal pendekatan sasaran pasar (audien), kemauan klien, itu ukuran yg beda lagi. 

Ini bahasan fotografi secara umum, yg belum dikaitkan dgn kajian latar belakang kelas sosial, intelektualitas, wawasan masyarakat sbg audien

 ilustrasi :..
Brp banyak orang yg tdk suka sinetron dgn alasan yg bisa dibenarkan. Misalnya, dianggap kurang mendidik dan terlalu gampangan. Tapi, juga satu kenyataan bahwa karya yg spt itu banyak yg suka, banyak yg tdk peduli dgn kesadaran estetika (artistik dan etik). Nah, jadi kembali ke kita sbg kreator, apakah kenyataan ini kemudian membuat kita lbh memilih mengingkari teori? Atau sebaliknya, terus memperluas wawasan, membuat karya bagus yg bisa masuk ke pasar yg punya selera bagus? Pasarnya hollywood, misalnya..

Disadari atau tdk, setiap kali kita melihat foto yg menarik, kita terdorong utk mencari info lebih seputar isi foto itu. nah sebagian besar info itu sebenarnya adalah poin2 yg bisa dirangkum dlm pesan dlm format caption atau keterangan foto.. misal apanama pantai ini? dimana lokasinya? terawat atau tidak, masih alami atau sdh digarap perusahaan? dst. nah coba pikirkan apakah dari pertanyaan2 itu ada yg bisa dijadikan elemen atau subyek foto? klo sdh punya kesadaran tentang perlunya penegasan pesan, mungkin kita bisa memasukkan unsur2 ini dlm bingkai bidik kita
semua produk komunikasi punya 3 unsur: 

  1. ide/gagasan/pesan, 
  2. teknis/teknologi, 
  3. estetika (artistik/etika). 

Ini yg perlu dipahami dulu.. ini berlaku utk semua produk komunikasi: foto, poster, lukisan, patung, mass media (koran, majalah..) dst. Ini acuan/teori baku dunia komunikasi. Nah, pembagian karya foto spt yg anda maksud, setahu saya gak ada. Foto cuma dikelompokkan berdasarkan konten (pesan), spt: fine art, jurnalistik, street-photoghraphy, modelling/fashion, sport, human interest, dokumentasi (wedding, even, arsip) dst. Jadi semua jenis foto itu punya pesan, tinggal si fotografernya, mampukah mengkspresikan pesannya dengan bagus/kuat.

 Suatu saat fotografer pemula dan senior bisa sama hebatnya dalam hal teknis dan estetika. Yang sedikit membedakan hanya soal kematangan ide/gagasan/pesan.. krn dlm hal ini memang tdk bisa dipelajari secara instan. Butuh waktu, butuh bacaan politik, butuh wawasan sosial budaya, dsb.. karena aspek pesan memang tidak ada batasnya...


#Krus Haryanto

2 comment:

 
Toggle Footer
Top