Dimensi Foto

DIMENSI FOTO, Sering dengar istilah ini? Sering dengar, tapi masih belum begitu paham? OK mari kita bahas soal ini. Dimensi termasuk salah satu kaidah berkomposisi, salah satu teknis kreatif untuk memperindah foto. Pengertian dimensi adalah kesan ruang atau kedalaman gambar (subyek foto), sehingga foto tidak terasa flat (rata). Ini salah satu yang membuat foto terasa hidup, lebih nyata, sehingga secara kualitas foto berdimensi lebih kuat dan menarik dibanding yang flat. Untuk lebih memahami dimensi, bayangkan perbandingan antara potongan kertas craft yang ditempel di buku gambar dan yang dibentuk menjadi bunga atau burung tiga dimensi. Yang tempelan sebagus apapun penyusunannya tetap datar, terkesan mati. Sedangkan yang tiga dimensi lebih menguasai ruang, lebih hidup, lebih nyata. Nah, bagaimana menciptakan kesan dimensi dalam foto, silahkan simak uraian berikut ini. Ada 3 macam teknis menciptakan dimensi:

1. Menciptakan bayangan subyek
Elemen bayangan memberi kesan kedalaman subyek foto. Bayangan memberi gambaran tentang tinggi/panjang sebuah benda, dalamnya lekuk-lekuk bentuk benda, kasarnya tekstur permukaan, mancungnya hidung, tembemnya pipi dst. Bayangan dibentuk dengan penyinaran menyamping, TIDAK satu titik dengan angle kamera seperti flash yang menempel di hotshoe. Foto di bawah ini memanfaatkan sinar yang datang dari jendela dan pintu terbuka.

contoh foto : 

ini contoh foto flat:

Bandingkan dengan ini dimensinya :

Ini contoh bayangan yang halus :

(kalau gak ada bayangan kacamata itu kesannya cuma menempel)


2. GARIS PERSPEKTIF, BOLEH DARI SUBYEK UTAMA ATAU SUBYEK PENDUKUNG
Garis perspektif cendrung membawa mata menuju kedalaman ruang...

Contoh :

(frame kayu di foto ini, juga arah keledai yg diagonal sama2 membentuk persfektif)

Perspektif Kursi :

Contoh Lagi :

(WALAUPUN KECIL PERSFEKTIF QURAN DI FOTO INI TERASA (krn gak crowded)
ADANYA RUANG KOSONG DAPAT MEMBENTUK GARIS IMAJINASI KE ARAH BENDA)


3. KOMPOSISI SUBYEK BERLAPIS

3A. Dengan Depht Of Field (DOF) pendek menyebabkan subyek pendukung out of fokus (blur). Adanya perbedaan antara subyek yang tajam dan yang blur dengan sendirinya mengesankan perbedaan ruang, mengesankan kedalaman.

Contoh : 

3B. Perbedaan intensitas cahaya subyek-subyek, baik secara gradual atau tegas

Contoh Kasus : 


(Perhatikan garis melintang frame subyek keyboard membentuk lapisan pertama, frame jendela lapisan ke dua, subyek gitar lapis ketiga, dinding balkon lapis keempat)


3C. GARIS-GARIS TEGAS YANG MENCIPTAKAN LAPISAN DIMENSI

Contoh Kasus : 


***
Cahaya alami seringkali menunjukkan efek dimensi yang indah. Contoh di foto ini, semua subyek foto (gelap, terang, cahaya jendela dan refleksi di lantai dan tembok) membentuk pola dimensi yang jarang bisa kita buat secara sadar. Tuhan memang Maha Estetis..


Link Source : https://www.facebook.com/notes/kofipon-komunitas-fotografi-ponsel/dimensi-foto-oleh-oom-krus-haryanto/270756469690575

- Credit : Krus Haryanto - 

Once Upon a Time in Jakarta





This photo taken by cellphone Device : Nokia Lumia 520 (Lucam)

Edited : Ps Express

Location : JPO Rasuna Said, Jakarta Selatan



- all photos are copyright to KoFiPon (Komunitas Fotografi Ponsel) members -

Help Me




This photo taken by cellphone Device : Sony Xperia L

Edited : Photo Editor

Location : Serang



- all photos are copyright to KoFiPon (Komunitas Fotografi Ponsel) members -

Hobby Membaca




By : Tyo Bawor

This photo taken by cellphone Device : Lenovo 316i

Edited : Photo Editor

Location : Sumenep



- all photos are copyright to KoFiPon (Komunitas Fotografi Ponsel) members -

Dieng Via 2565mdpl





This photo taken by cellphone Device : Nokia N8

Edited : Snapseed

Location : Mt. Prau, Jawa Tengah



- all photos are copyright to KoFiPon (Komunitas Fotografi Ponsel) members -

Musim Salju di Prambanan





This photo taken by cellphone Device : Xiaomi Redmi 1s+Filter Film Rol (Klise)

Edited : No Edit

Location : Candi Prambanan



- all photos are copyright to KoFiPon (Komunitas Fotografi Ponsel) members -

#tips Stage Photography

Halo teman teman dunia maya, back again bersama mimin yang kece. Kali ini "mince" alias mimin kece akan bagi-bagi tips nih buat para Kofiponers, tips n trik Fotografi Panggung atau istilah kerennya  "Stage Photography", tentunya pakai ponsel.

Motif Berfotografi

Setiap kali memotret berarti kita telah memilih satu dari ratusan kemungkinan kreatifitas fotografi yg bisa kita berikan kepada audien. Karya foto yg kita hasilkan menunjukkan kemampuan berfikir dan kreatifitas kita pd waktu dan moment tertentu.
Apakah kita konsisten mampu berfikir kreatif, atau sebaliknya, sering kedodoran ide? Itu dgn sendirinya bisa terlihat tanpa perlu kita jelaskan.
Kreatifitas fotografi bisa dikembangkan ke semua aspek foto: pesan, teknis, dan estetika. Misal, suatu ketika, mungkin kita ingin menyuguhkan teknis slow speed utk merekam indahnya garis2 cahaya lampu kendaraan di malam hari, itu artinya kita sdg mengembangkan kreatifitas teknis. Atau di moment tertentu kita ingin menampilkan framing dari payung warna-warni
yg ada di pantai, itu merupakan pilihan kreatif komposisi.
Nah, selain dua elemen di atas, yg paling menentukan kualitas foto dan merupakan aspek terpenting dlm foto adalah kreatifitas pesan. Inilah elemen yg menjadikan sebuah foto terasa bermakna atau cuma menjadi sebuah keindahan yg datar, kering, kosong tanpa makna..
Menurut pengalaman sy pribadi, jauh lebih mudah membuat foto indah ketimbang yg memiliki ide/pesan dramatis. Kita bisa membuat puluhan foto2 indah saat hunting. Tapi, mungkin cuma bagus dlm konsep teknis dan estetika, bukan yg bagus krn punya kedalaman pesan.
Untuk mendapatkan pesan foto yg dramatis diperlukan usaha berimajinasi yg lbh keras, agar mudah merespon atau menangkap moment2 tertentu. Jadi disini lebih menuntut kemampuan respon spontan ketimbang kreatifitas hafalan (spt masalah teknis dan komposisi)..

Foto adalah produk komunikasi, memang tantangannya adalah bgm supaya karya bisa dipahami oleh audien. Nah, ini justru konteksnya bukan meniadakan keberadaan dan kekuatan pesan. Bahkan karya yg sangat abstrak pun hrs punya pesan.. (Krn itu antara lain ia bisa diberi judul).
Sbg produk komunikasi, fotografer memang hrs mampu mengkomunikasikan gagasannya secara visual. Teorinya, ya spt yg sy ulas di atas. Tapi fotografer juga boleh memilih cara mengolah pesan, teknis dan estetika sesuai selera, kemampuan, dan wawasannya. Soal pendekatan sasaran pasar (audien), kemauan klien, itu ukuran yg beda lagi. 

Ini bahasan fotografi secara umum, yg belum dikaitkan dgn kajian latar belakang kelas sosial, intelektualitas, wawasan masyarakat sbg audien

 ilustrasi :..
Brp banyak orang yg tdk suka sinetron dgn alasan yg bisa dibenarkan. Misalnya, dianggap kurang mendidik dan terlalu gampangan. Tapi, juga satu kenyataan bahwa karya yg spt itu banyak yg suka, banyak yg tdk peduli dgn kesadaran estetika (artistik dan etik). Nah, jadi kembali ke kita sbg kreator, apakah kenyataan ini kemudian membuat kita lbh memilih mengingkari teori? Atau sebaliknya, terus memperluas wawasan, membuat karya bagus yg bisa masuk ke pasar yg punya selera bagus? Pasarnya hollywood, misalnya..

Disadari atau tdk, setiap kali kita melihat foto yg menarik, kita terdorong utk mencari info lebih seputar isi foto itu. nah sebagian besar info itu sebenarnya adalah poin2 yg bisa dirangkum dlm pesan dlm format caption atau keterangan foto.. misal apanama pantai ini? dimana lokasinya? terawat atau tidak, masih alami atau sdh digarap perusahaan? dst. nah coba pikirkan apakah dari pertanyaan2 itu ada yg bisa dijadikan elemen atau subyek foto? klo sdh punya kesadaran tentang perlunya penegasan pesan, mungkin kita bisa memasukkan unsur2 ini dlm bingkai bidik kita
semua produk komunikasi punya 3 unsur: 

  1. ide/gagasan/pesan, 
  2. teknis/teknologi, 
  3. estetika (artistik/etika). 

Ini yg perlu dipahami dulu.. ini berlaku utk semua produk komunikasi: foto, poster, lukisan, patung, mass media (koran, majalah..) dst. Ini acuan/teori baku dunia komunikasi. Nah, pembagian karya foto spt yg anda maksud, setahu saya gak ada. Foto cuma dikelompokkan berdasarkan konten (pesan), spt: fine art, jurnalistik, street-photoghraphy, modelling/fashion, sport, human interest, dokumentasi (wedding, even, arsip) dst. Jadi semua jenis foto itu punya pesan, tinggal si fotografernya, mampukah mengkspresikan pesannya dengan bagus/kuat.

 Suatu saat fotografer pemula dan senior bisa sama hebatnya dalam hal teknis dan estetika. Yang sedikit membedakan hanya soal kematangan ide/gagasan/pesan.. krn dlm hal ini memang tdk bisa dipelajari secara instan. Butuh waktu, butuh bacaan politik, butuh wawasan sosial budaya, dsb.. karena aspek pesan memang tidak ada batasnya...


#Krus Haryanto